PENEMUAN TERBIMBING

penemuan terbimbing
Standard

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PENEMUAN TERBIMBING  DALAM PEMBELAJARAN BANGUN RUANG SISI DATAR  PADA SISWA KELAS VIII B SMP NEGERI 3  ABIANSEMAL TAHUN PELAJARAN 2012/2013

I Gusti Putu Partha Permana Putra

Abstract: The aim of this research is to improve student mathematical reasoning abilities through the application of guided discovery model in flat side solid figure study. Subjects were all student of class VIII B SMP Negeri 3 Abiansemal lesson year 2012/2013. Data were collected using observation techniques, tests, accomplished guided discovery model study data and field notes. The result of qualitative data analysis indicates that there is an increase in student mathematical reasoning abilities.

Kata kunci: Kemampuan penalaran matematis, model penemuan terbimbing, bangun ruang sisi datar.

       Matematika merupakan ilmu yang mempunyai ciri-ciri khusus, salah satunya adalah penalaran dalam matematika yang bersifat deduktif aksiomatis yang berkenaan dengan ide-ide, konsep-konsep, dan simbol-simbol yang abstrak serta tersusun secara hierarkis. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dinyatakan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama (Depdiknas, 2006).

       Adapun tujuan mata pelajaran matematika untuk semua jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah agar siswa mampu: (1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, (2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, (3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh, (4) mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; dan (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2006).

       Demikian pula tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran matematika oleh National Council of Teachers of Mathematics (NCTM). NCTM (dalam Shadiq, 2009:2) menetapkan lima standar kemampuan matematis yang harus dimiliki oleh siswa, yaitu kemampuan pemecahan masalah (problem solving), kemampuan komunikasi (communication), kemampuan koneksi (connection), kemampuan penalaran (reasoning), dan kemampuan representasi (representation). Berdasarkan uraian tersebut, kemampuan penalaran (reasoning) termuat pada kemampuan standar menurut Depdiknas dan NCTM. Artinya, kemampuan ini merupakan kemampuan yang penting dikembangkan dan harus dimiliki oleh siswa.

       Kemampuan penalaran matematis diperlukan siswa baik dalam proses memahami matematika itu sendiri maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran matematika, kemampuan penalaran berperan baik dalam pemahaman konsep maupun pemecahan masalah (problem solving). Terlebih dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan bernalar berguna pada saat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi baik dalam lingkup pribadi, masyarakat dan institusi-institusi sosial lain yang lebih luas. Pengembangan kemampuan penalaran matematis siswa berhubungan dengan pendekatan pembelajaran yang diterapkan. Pengembangan kemampuan penalaran memerlukan pembelajaran yang mampu mengakomodasi proses berpikir, proses bernalar, sikap kritis siswa, serta pembelajaran yang memberikan siswa kesempatan untuk menemukan sendiri konsep atau rumus yang sedang dipelajari.

       Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada guru pengampu mata pelajaran matematika kelas VIII B SMP Negeri 3 Abiansemal, diketahui bahwa rata-rata prestasi belajar siswa, ketuntasan belajar dan daya serap siswa masih di bawah harapan yang ditetapkan oleh sekolah. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh juga informasi bahwa hasil evaluasi yang dilakukan guru terhadap siswa masih belum mencapai harapan disebabkan karena siswa kesulitan dalam menjawab soal pemecahan masalah dan soal yang membutuhkan analisis. Siswa cenderung mampu menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan hafalan dan pemahaman konsep tetapi rata-rata mengalami kendala pada saat mencari solusi atas permasalahan yang lebih banyak membutuhkan analisis dan penalaran, sehingga diduga permasalahan utama yang dihadapi oleh siswa-siswa di kelas VIII B adalah masih rendahnya kemampuan penalaran matematis mereka.

       Berdasakan hasil observasi terhadap pembelajaran matematika di kelas VIII B SMP Negeri 3 Abiansemal, diperoleh bahwa belum tercapainya harapan yang ditetapkan sekolah dan masih rendahnya kemampuan penalaran matematis siswa diduga disebabkan oleh: (1) guru jarang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan konsep dan rumus sendiri melalui kegiatan penemuan, selama ini pembelajaran dilaksanakan secara ekspositori dengan menempatkan guru sebagai pelaku utama pembelajaran (teacher centered), (2) siswa kurang dilatih untuk menjelaskan alasan atas solusi dari permasalahan yang mereka berikan, (3) kemampuan siswa dalam menyusun pemecahan masalah untuk persoalan yang lebih kompleks kurang dilatih. Berdasarkan uraian di atas, kemampuan penalaran matematis siswa kelas VIII B SMP Negeri 3 Abiansemal masih perlu ditingkatkan dengan cara menerapkan suatu model pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa menemukan sendiri konsep atau rumus-rumus yang sedang dipelajari, menata kemampuan pemecahan masalah siswa, dan melatih siswa agar dapat memberikan alasan yang tepat atas solusi dari permasalahan yang mereka berikan. Model pembelajaran yang dipandang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa dan cocok untuk keadaan kelas tersebut adalah model penemuan terbimbing.

       Dengan model penemuan terbimbing siswa dihadapkan pada situasi dimana siswa bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Siswa didorong untuk melakukan terkaan, menggunakan intuisi dan mencoba-coba dalam usaha mereka menemukan pemecahan masalah sebelum dibuktikan melalui tindakan verifikasi agar didapat pengetahuan yang baru yang sah kebenarannya. Dengan membiasakan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah untuk menemukan konsep yang sedang dipelajari, diharapkan akan menigkatkan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal matematika yang lebih banyak membutuhkan analisis, karena siswa akan menggunakan kemampuan penalaran matematisnya pada saat manipulasi, eksperimen, memberikan alasan dibalik solusi yang mereka ajukan, dan menyelesaikan masalah.

       Fokus penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa melalui penerapan model penemuan terbimbing dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 3 Abiansemal tahun pelajaran 2012/2013. Rumusan masalah penelitian ini adalah apakah ada peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa melalui penerapan model penemuan terbimbing dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 3 Abiansemal tahun pelajaran 2012/2013. Berdasarkan fokus penelitian dan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatan kemampuan penalaran matematis siswa melalui penerapan model penemuan terbimbing dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 3 Abiansemal tahun pelajaran 2012/2013.

Kemampuan Penalaran Matematis

       Siswa dikatakan mampu melakukan penalaran matematis bila ia mampu menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. Dalam kaitan itu pada penjelasan teknis Peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas Nomor 506/C/Kep/PP/2004 tanggal 11 November 2004 (dalam Wardhani, 2008:14) tentang rapor pernah diuraikan bahwa indikator siswa memiliki kemampuan dalam penalaran adalah mampu: (1) mengajukan dugaan, (2) melakukan manipulasi matematika, (3) menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti terhadap kebenaran solusi, (4) menarik kesimpulan dari pernyataan, (5) memeriksa kesahihan suatu argumen, (6) menemukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk membuat generalisasi.

Model Penemuan Terbimbing

       Menurut Fatayanti (2012:8) penemuan terbimbing merupakan kegiatan penemuan yang masih membutuhkan keterlibatan guru dalam proses pembelajaran, di mana masalah dikemukakan oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa berpikir untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut di bawah bimbingan intensif guru. Menurut Redi (2012:8) pembelajaran penemuan terbimbing merupakan salah satu bagian dari pembelajaran penemuan yang banyak melibatkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, namun dalam proses penemuan siswa mendapat bantuan atau bimbingan dari guru, agar mereka lebih terarah sehingga baik proses pelaksanaan pembelajaran maupun tujuan yang dicapai dapat terlaksana dengan baik. Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penemuan terbimbing adalah kegiatan penemuan yang masih membutuhkan keterlibatan guru dalam proses pembelajaran yang bertujuan agar siswa lebih terarah dalam menemukan jawaban masalah sehingga baik proses pelaksanaan pembelajaran maupun tujuan yang dicapai dapat terlaksana dengan baik.

Merencanakan Pembelajaran dengan Model Penemuan Terbimbing

       Menurut Illahi (2012:83) merencanakan pembelajaran saat menggunakan model penemuan melibatkan beberapa langkah penting, yaitu: (1) adanya masalah yang akan dipecahkan, (2) sesuai dengan tingkat kemampuan kognitif anak didik, (3) konsep atau prinsip yang ditemukan harus ditulis secara jelas, (4) harus tersedia alat atau bahan yang diperlukan, (5) suasana kelas harus diatur sedemikian rupa, (6) guru memberikan kesempatan anak didik untuk mengumpulkan data, (7) harus dapat memberikan jawaban secara tepat sesuai dengan data yang diperlukan peserta didik.

Langkah-Langkah Pembelajaran Model Penemuan Terbimbing pada Pembelajaran Matematika

       Menurut Hirdjan (dalam Setyono, 1985:15) agar pelaksanaan model penemuan terbimbing ini berjalan dengan efektif terutama dalam pembelajaran matematika, Hirdjan membagi langkah-langkah mengajar dengan model penemuan ke dalam suatu skema, seperti yang terlihat pada Gambar 01 berikut:

Penemuan Terbimbing

Gambar 01. Skema Langkah-Langkah Pembelajaran Penemuan Terbimbing Menurut Hirdjan (dimodifikasi dari Setyono, 1985:16)

Penjelasan skema langkah-langkah pembelajaran pada Gambar 01 adalah sebagai berikut,

  1. Tes Kriteria

       Tes Kriteria (Setyono, 1985:16) didifinisikan sebagai suatu tugas yang disajikan oleh guru atau suatu problem yang dihadapkan pada siswa dalam pengajaran. Apabila siswa tersebut sudah menyelesaikan tes kriteria dapat melanjutkan ke putaran baru. Adapun bagi siswa yang belum dapat menyelesaikan tes kriteria akan memasuki tahap bimbingan yang meliputi latihan pengembangan, penyusunan data, dan prompting.

  1. Latihan Pengembangan

       Latihan pengembangan adalah metode pemberian bimbingan dengan cara memberikan soal-soal yang terkait dengan soal tes kriteria dimulai dari soal-soal yang sederhana kemudian secara bertahap dan teratur meningkat tingkat kesulitannya.

  1. Penyusunan Data

       Penyusunan data adalah metode pemberian bimbingan dengan cara menyusun data yang diperoleh pada latihan pengembangan ke dalam tabel agar data yang diperoleh lebih mudah untuk ditemukan pola penyelesaiannya. Langkah ini dilakukan jika siswa belum menemukan jawaban pada latihan pengembangan.

  1. Tambah Data atau Prompting

       Tambah data atau prompting adalah metode pemberian bimbingan dengan cara memberikan data tambahan dan loncatan data terkait soal latihan pengembangan ke dalam suatu tabel. Langkah ini dilakukan jika siswa belum menemukan jawaban pada penyusunan data.

  1. Verifikasi

       Verifikasi adalah memeriksa kebenaran jawaban secara deduktif.

  1. Tes Ketangasan

Tes ketangkasan adalah pemberian soal-soal terkait konsep atau rumus yang telah ditemukan siswa.

Kelebihan dan Kelemahan Model Penemuan Terbimbing

       Dalam penerapannya di kelas, model pembelajaran penemuan terbimbing dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu dengan metode klasikal dan dengan metode kelompok. Metode klasikal dapat dilakukan secara lisan ataupun dengan bantuan lembar kerja siswa, namun penggunaan metode klasikal secara lisan relatif lebih mudah dan efektif dilakukan. Model pembelajaran penemuan terbimbing dengan metode klasikal secara lisan memiliki kelebihan dari segi efektifitas waktu karena kontrol dimulainya dan berakhirnya proses penemuan ditentukan atau dikontrol sepenuhnya oleh guru, sedangkan kelemahannya proses penemuan ini berusaha menyamakan kecepatan siswa dalam menemukan hasil, sehingga tidak semua siswa akan benar-benar terlibat langsung dalam proses penemuan dan memahami apa yang mereka temukan. Pembelajaran penemuan terbimbing dengan metode kelompok dapat dilakukan dengan bantuan lembar kerja siswa.

       Pembelajaran penemuan terbimbing dengan metode kelompok memiliki kelebihan yaitu setiap siswa akan lebih terlibat dalam proses penemuan, karena masing-masing siswa mengerjakan lembar kerja siswa dan pemberian bimbingan oleh guru akan dapat lebih dioptimalkan ke kelompok-kelompok kecil. Kelebihan lainnya adalah keberadaan teman sejawat mereka di dalam kelompok yang lebih dahulu mampu menemukan hasil dari penemuan, mereka dapat berperan sebagai pembimbing yang membantu temannya selain guru dan lembar kerja siswa. Kelemahan dari model penemuan terbimbing dengan metode kelompok adalah dari segi penggunaan waktu, karena antara satu kelompok dan kelompok lain akan membutuhkan waktu berbeda dalam menemukan hasil dalam penemuan.

Download file pada tombol di bawah dan ikuti petunjuknya untuk baca artikel selengkapnya.

Partha Permana Putra
Follow Me
Partha Permana Putra
Follow Me

Latest posts by Partha Permana Putra (see all)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.